Selasa, 17 Juli 2018

CONTOH LENGKAP PTK PENJASKES SD KELAS III DOC

CONTOH LENGKAP PTK PENJASKES SD KELAS III DOC-Latar belakang masalah ini adalah masih banyaknya siswa yang kurang tertarik sehingga kurang bersungguh-sungguh dalam kegiatan pembelajaran sepak takraw, hal tersebut menyebabkan hasil belajar yang tidak maksimal dalam bermain sepak takraw. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan hasil belajar sepak takraw siswa Kelas III SDN ..............tahun pelajaran 2016/2017.Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar sepak takraw melalui pendekatan permainan jala hip hop pada siswa Kelas III SDN ....................... tahun pelajaran 2016/2017.ptk penjas sd doc

Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Objek penelitian melalui metode permainan jala hip hop sedangkan subjeknya adalah siswa Kelas III SDN ............... Pertemuan dalam penelitian ini dirancang dua siklus yaitu siklus 1 dan siklus 2. Instrumen yang digunakan dalam pengambilan data diperoleh dari hasil tes unjuk kerja yang ditampilkan siswa pada saat pelaksanaan tes.Dari hasil penelitian yang dilakukan, terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari kondisi awal ke siklus I dan siklus II, baik dari peningkatan nilai rata-rata pembelaj aran sepak takraw jala hip hop maupun nilai ketuntasan hasil belajar. Nilai rata-rata kondisi awal 59,79%, rata-rata siklus I 75,14% dan rata-rata siklusII 87,29%, sehingga peningkatan dari kondisi awal ke siklus II sebesar 27,50%. Peningkatan kemampuan sepak pada pembelajaran sepak takraw jala hip hop dapat dilihat dari nilai KKM (75,00) atau tuntas sebesar 57,14% setelah dilakukan tindakan pada siklus I nilai belajar siswa yang tuntas sebanyak 8 dari 14 siswa dan pada siklus II semua siswa tuntas dinyatakan tuntas keseluruhan sebesar 100%.

Kesimpulan peneliti ini adalah melalui pendekatan permainan jala hip hop dapat meningkatkan hasil belajar sepak takraw pada siswa Kelas III SDN..........Tahun Pelajaran 2016/2017. Saran penelitian ini untuk guru-guru penjas diharapkan dapat mengembangkan model-model permainan keterampilan gerak yang lebih menarik untuk digunakan dalam pembelajaran modifikasi permainan di sekolah. ptk penjaskes sd tentang atletik doc
Laporan penelitian tindakan kelas ini membahas mapel PENJASKES SD yang diberi judul “Meningkatkan Hasil Belajar Sepak Takraw Melalui Pendekatan Permainan Jala Hip Hop Siswa Kelas Iii Sd Negeri ...........Tahun Pelajaran 20.../20... ". Disini akan di bahas lengkap.

PTK ini bersifat hanya REFERENSI saja kami tidak mendukung PLAGIAT, Bagi Anda yang menginginkan FILE PTK PENJASKES SD KELAS III lengkap dalam bentuk MS WORD SIAP DI EDIT dari BAB 1 - BAB 5 untuk bahan referensi penyusunan laporan PTK dapat (SMS ke 0817-283-4988 dengan Format PESAN PTK 057 SD ).

A.DOWNLOAD LAPORAN PROPOSAL PTK PENJASKES KELAS 3 SD

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Salah satu permasalahan yang ada pada pembelajaran penjas orkes untuk materi bola besar seperti sepak takraw di lingkungan sekolah kami adalah, kurang bersungguh-sungguhnya siswa dalam pembelajaran yang berlangsung dalam kegiatan pembelajaran sepak takraw, hal tersebut menyebabkan hasil belajar yang tidak maksimal dalam menyerap materi dan bermain sepak takraw. Permasalahan tersebut semakin mendalam dan berpengaruh secara signifikan terhadap pembelajaran penjasorkes, karena kurangnya kemampuan guru dalam mengembangkan metode pembelajaran agar dapat lebih menarik bagi siswa. Kreativitas dan inovasi para guru penjasorkes selaku pelaksana khususnya dalam pengembangan model pembelajaran sangat berpengaruh besar terhadap tingkat keberhasilan.
Selama ini guru penjasorkes dalam melaksanakan proses pembelajaran khususnya permainan sepak takraw di SDN.............. sudah dilaksanakan dengan baik, namun hasil pembelajaran belum maksimal dan perlu ditingkatkan. Hal ini disebabkan 1) anak kurang tertarik dengan permainan sepak takraw; 2) penerapan metode yang belum tepat; 3) pengembangan materi yang belum maksimal. Dampak dari itu tentunya akan mempengaruhi hasil belajar, dan kesegaran jasmani peserta didik yang semestinya dapat ditingkatkan secara optimal. Kondisi tersebut dapat dilihat belum tercapainya KKM secara klasikal yaitu 75. Sedangkan prosentase rata-ata siswa pada pra siklus adalah 59,79%.
Modifikasi pembelajaran penjasorkes merupakan salah satu upaya membantu penyelesaian permasalahan terbatasnya kemampuan guru dalam pembelajaran penjasorkes di sekolah. Dari hasil pengamatan selama ini, pengembangan model pembelajaran penjasorkes yang dilakukan oleh para guru penjasorkes dapat membawa suasana pembalajaran yang inovatif, dengan terciptanya pembelajaran yang menyenangkan dan dapat memotivasi peserta didik untuk lebih berpeluang mengeksploitasi gerak secara luas dan bebas, sesuai tingkat kemampuan yang dimiliki. Biarpun pengembangan model pembelajaran yang ada masih terbatas dalam lingkup lingkungan fisik di dalam sekolah, dan belum dikembangkan pada pemanfaatan lingkungan fisik luar sekolah, yang sebenarnya memiliki potensi sebagai sumber belajar yang efektif dan efisien.
Berdasarkan uraian di atas membuat penulis tertarik untuk meneliti “Meningkatkan Hasil Belajar Sepak Takraw Melalui Pendekatan Permainan Jala Hip Hop Siswa Kelas III SDN ............. Tahun Pelajaran 2016/2017”. Adapun alasan yang mel atarbelakangi pemilihan judul di atas adalah sebagai berikut:
a. Bola yang digunakan bola plastik, agar anak tidak merasa sakit ketika menyepak bola, sehingga anak akan merasa senang karena tidak merasakan sakit ketika bermain sepak takraw.
b. Tinggi net dibuat lebih rendah dari ukuran sebenarnya agar anak lebih mudah dalam mengembalikan bola ke daerah lawan, dan anak lebih mudah melakukan smash.
c. Ukuran lapangan diperkecil agar anak lebih mudah dalam mengontrol bola yang keluar. Disamping itu ruang gerak anak lebih sempit sehingga mengurangi rasa lelah anak ketika bermain.
1.2 Perumusan Masalah ptk penjaskes sd sepak bola
Berdasarkan uraian di atas, penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut “Bagaimana meningkatkan hasil belajar sepak takraw siswa Kelas III SDN................. tahun pelajaran 2016/2017”.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar sepak takraw melalui pendekatan permainan j ala hip hop pada siswa Kelas III SDN ................tahun pelajaran 2016/2017.

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh melalui hasil penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa Kelas III SDN .................... Tahun Pelajaran 2016/2017 dalam permainan sepak takraw.
1.5 Sumber Pemecahan Masalahptk penjaskes sd pdf
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengatasi masalah rendahnya hasil belajar sepak takraw. Adapun langkah tersebut diantaranya melalui pendekatan permainan jala hip hop.

B.PENELITIAN TINDAKAN KELAS KURTILAS PENJASKES SD LENGKAP

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan melalui penyediaan pengalaman belajar kepada peserta didik berupa aktivitas jasmani, bermain, dan berolahraga yang direncanakan secara sistematis guna merangsang pertumbuhan dan perkembangan fisik, organik, keterampilan motorik, keterampilan berfikir, emosional, sosial dan moral. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina, sekaligus membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat.
2.1.1. Hakekat Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.
Karenanya pendidikan jasmani ini harus menyebabkan perbaikan dalam ”pikiran dan tubuh” yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan harian seseorang. Pendekatan holistik tubuh-jiwa ini termasuk pula penekanan pada ketiga domain kependidikan: psikomotor, kognitif, dan afektif. Dengan meminjam ungkapan Robert Gensemer, pendidikan jasmani diistilahkan sebagai proses menciptakan “tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa.” Artinya, dalam tubuh yang baik ‘diharapkan’ pula terdapat jiwa yang sehat, sejalan dengan pepatah Romawi Kuno: Men sana in corporesano.
2.1.2. Definisi Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif, dan afektif setiap peserta didik. Hal ini sesuai dengan batasan pengertian pendidikan jasmani menutut UNESCO dalam “ I nternational Charter of Physical Education and Sport ” (1978), sebagai berikut : Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai individu atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematika melalalui berbagai kegiatan jasmani dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan dan pembentukan watak. (Harsuki., 2003: 26).

Materi mata pelajaran Pendidikan Jasmani yang meliputi: pengalaman mempraktikkan keterampilan dasar permainan dan olahraga; aktivitas pengembangan; uji diri/senam; aktivitas ritmik; akuatik (aktivitas air); dan pendidikan luar kelas (outdoor) disajikan untuk membantu peserta didik agar memahami mengapa manusia bergerak dan bagaimana cara melakukan gerakan secara aman, efisien, dan efektif. Adapun implementasinya perlu dilakukan secara terencana, bertahap, dan berkelanjutan, yang pada gilirannya peserta didik diharapkan dapat meningkatkan sikap positif bagi diri sendiri dan menghargai manfaat aktivitas jasmani bagi peningkatan kualitas hidup seseorang. Dengan demikian, akan terbentuk jiwa sportif dan gaya hidup aktif.ptk penjaskes sd pdf
2.1.3. Tujuan Pendidikan Jasmani
Pokok-pokok Pengembangan Program Pembelajaran Pendidikan Jasmani bahwa tujuan pendidikan jasmani mencakup empat komponen, yakni :
1) komponen organik, merupakan gambaran tujuan aspek fisik dan psikomotor yang harus dicapai pada setiap proses pembelajaran, yang meliputi; kapasitas fungsional dari organ-organ seperti daya tahan j antung dan otot.
2) komponen neuromuskuler merupakan gambaran tujuan yang meliputi aspek kemampuan unjuk kerja keterampilan gerak yang didasari oleh kelenturan, kelincahan, keseimbangan, dan kecepatan.
3) komponen intelektual, merupakan gambaran yang dapat dipadankan dengan kognitif
4) komponen emosional, merupakan gambaran yang dapat dipadankan dengan afektif
Jika mengamati tujuan mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih
2) Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik.
3) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar
4) Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai
yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan
5) Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama,
percaya diri dan demokratisptk penjaskes sd pdf
6) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan
7) Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih
sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola
hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.
2.1.4. Hakikat Strategi Mengajar
Pengajaran memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku melalui hubungan timbal balik atau interaksi antara guru dan siswa. Hubungan ini merupakan hasil dari persiapan dan penyajian pelajaran dalam situasi lingkungan yang diciptakan secara sengaja. Pengajaran dapat dikatakan baik dan efektif, apabila faktor-faktor pendukung belajar dapat diintegrasikan ke dalam rangkaian yang saling tergantung secara serentak dan dalam rangkaian yang berurutan. Untuk memadukan faktor-faktor pendukung tersebut, diperlukan adanya suatu cara mengajar atau strategi yang tepat untuk mencapai tujuan yang ditentukan.

Konsep strategi mengajar mencakup aspek yang cukup luas, oleh sebab itu wajarlah kalau dijumpai berbagai batasan strategi mengajar yang dikemukakan para ahli. Strategi menurut Winarno Surakhmad (1980:223) adalah “suatu cara yang sistematik dengan prosedur dan proses tertentu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan demikian strategi juga merupakan sebuah rancangan untuk dapat menggambarkan suatu cara yang akan dilakukan seseorang pada situasi dan kondisi tertentu”.
Mengajar menurut Raka Joni (1983:3) adalah “suatu usaha guru untuk menciptakan kondisi-kondisi atau mengatur lingkungan sedemikian rupa agar terjadi interaksi antara murid dengan lingkungannya sehingga tercapai tujuan pelajaran yang telah ditentukan”. Menurut Winarno Surakhmad (1980:45) “mengajar adalah suatu aspek pendidikan yang dilandasi pada interaksi dua pihak yaitu guru dan siswa yang menghasilkan suatu derajat pengembangan diri dalam belajar”. Strategi mengajar adalah teknik yang dipakai antara guru dan siswa dalam kegiatan instruksional untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Tujuan strategi mengajar adalah menciptakan suatu bentuk pengajaran dengan kondisi tertentu untuk membantu proses belajar, yaitu tercapainya tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Dengan demikian strategi mengajar merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan belajar mengajar.ptk penjaskes sd pdf
Dalam proses belajar mengajar guru memiliki kebebasan untuk memilih atau menentukan strategi mengajar yang akan dipakai atau diterapkan. Kebebasan ini erat kaitannya dengan pembentukan pertalian yang logis antara tujuan mengajar, strategi mengajar, dan proses belajar mengajar yang efektif. Mengenai efektivitas kegiatan belajar mengajar itu tergantung pada strategi yang diterapkan dan karakteristik dari pengalaman siswa dengan bahan-bahan yang disajikan.
Nasution (1996:28) mengemukakan bahwa “Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang melibatkan guru dan siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Semakin jelas tujuan itu, semakin besar pula kemungkinan ditemukannya strategi mengajar yang serasi”. Pada proses belajar mengajar guru harus memiliki kemampuan untuk memilih strategi mengajar yang paling serasi, yang akan dipakai atau diterapkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Pada hematnya strategi mengajar yang lebih bermutu, yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap siswa serta waktu belajar yang lebih banyak akan dapat mencapai keberhasilan penuh dalam tiap bidang studi.
2.2. Karakteristik Perkembangan Gerak
2.2.1. Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Sekolah Dasar
1. Ukuran dan Bentuk Tubuh Anak Usia 6-12 Tahun
Menurut Sugiyanto dan Sudjarwo (1993 : 101), perkembangan fisik anak yang terjadi pada masa ini menunjukkan adanya kecenderungan yang berbeda dibanding pada masa sebelumnya dan juga pada masa sesudahnya. Kecenderungan perbedaan yang terjadi adalah dalam hal kepesatan dan pola pertumbuhan fisik anak laki-laki dan perempuan sudah mulai menunjukkan kecenderungan semakin jelas tampak adanya perbedaan.ptk penjaskes sd pdf
Ukuran dan proporsi tubuh berubah secara bertahap, dan hubungan hampir konstan dipertahankan dalam perkembangan tulang dan jaringan. Oleh karena energi anak diarahkan ke arah penyempurnaan pola gerak dasar yang telah terbentuk selama periode masa awal anak. Disamping penyempurnaan pola gerak dasar, adaptasi dan modifikasi terhadap gerak dasar perlu dilakukan, hal ini dimaksudkan untuk menghadapi adanya peningkatan atau pertambahan berbagai situasi (Yanuar Kiram, 1992:36).
2. Perkembangan Aktivitas Motorik Kasar (Gross motor ability)
Perkembangan motorik dasar difokuskan pada keterampilan yang biasa disebut dengan keterampilan motorik dasar meliputi jalan, lari, lompat, loncat, dan keterampilan menguasai bola seperti melempar, menendang dan memantulkan bola. Keterampilan motor dasar dikembangkan pada masa anak sebelum sekolah dan pada masa sekolah awal.
3. Perkembangan Aktivitas Motorik Halus (Fine motor activity)
Kemampuan untuk mengatur penggunaan bentuk gerakan mata dan tangan secara efisien, tepat dan adaptif. Menurut Anita J. Harrow perkembangan gerak anak berdasarkan klasifikasi dominan psikomotor dapat dibagi menjadi 6 meliputi:
a. Gerak Reflek
Gerak refleks adalah respon atau aksi yang terjadi tanpa kemauan sadar yang ditimbulkan oleh suatu stimulus. Gerak ini bersifat prerekuisit terhadap perkembangan kemampuan gerak pada tingkat-tingkat berikutnya. Gerak reflek dibagi menjadi tiga yaitu : reflek segmental, reflek intersegmental, dan reflek suprasegmental (Sugiyanto dan Sudjarwo, 1993:219).
b. Gerak Dasar Fundamental
Gerak dasar fundamental adalah gerakan-gerakan dasar berkembangnya sejalan dengan pertumbuhan tubuh dan tingkat kemampuan pada anak-anak. Gerakan ini pada dasarnya menyertai gerakan refleks yang sudah dimiliki sejak lahir, gerak dasar fundamental mula-mula bisa dilakukan pada masa bayi dan masa anak-anak, dan disempurnakan melalui proses berlatih yaitu dalam bentuk melakukan berulang-ulang.
c. Kemampuan Perspektual
Kemampuan perspektual adalah kemampuan untuk mengantisipasi stimulus yang masuk melalui organ indera.
d. Kemampuan Fisik
Kemampuan fisik adalah kemampuan untuk memfungsikan sistem organ tubuh didalam melakukan aktivitas psikomotor. Secara garis besar kemampuan fisik, kemampuan fisik sangat penting untuk mendukung aktivitas psikomotor. Secara garis besar kemampuan fisik dibagi menjadi empat macam yaitu ketahanan (endurance), kekuatan (strenght), fleksibilitas (flexibility), kelincahan (aqility) (Sugiyanto dan Sudjarwo, 1993:221-222).
e. Gerakan Keterampilan
Gerakan keterampilan adalah gerakan yang memerlukan koordinasi dengan kontrol gerak yang cukup komplek, untuk menguasainya diperlukan proses belajar gerak. Gerakan yang terampil menunjukkan sifat efisien di dalam pelaksanaannya.
f. Komunikasi non-diskursif
Menurut Harrow dalam Sugiyanto dan Sudjarwo (1993:322) komunikasi non-diskursif merupakan level komunikasi domain psikomotor. Komunikasi non-diskursif merupakan perilaku yang berbentuk komunikasi melalui gerakan-gerakan tubuh. Gerakan yang bersifat komunikatif meliputi gerakan ekspresif dan interpretif.
2.2.2. Hakikat Belajar Keterampilan Gerak
Pendidikan jasmani mengandung karakteristik khusus yang berhubungan dengan gerak manusia. Dalam aplikasinya, gerak manusia dimanipulasi dalam bentuk latihan-latihan fisik untuk menghasilkan keterampilan gerak. Untuk dapat memiliki keterampilan gerak yang lebih baik, maka terlebih dahulu dikembangkan unsur-unsur gerak yang diperlukan melalui proses belajar dan berlatih.
Belajar adalah kecenderungan perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang merupakan hasil dari berbuat yang berulang-ulang. Menurut Singer (1980:9) diyatakan bahwa “belajar adalah perubahan yang relatif stabil pada perilaku yang merupakan hasil dari latihan atau pengalaman”. Gagne (1985:12) berpendapat bahwa “perubahan perilaku sebagai hasil belajar dapat dibedakan atas lima kategori yaitu : keterampilan intelektual, informasi verbal, kognitif, sikap dan keterampilan motorik”. Lebih lanjut dikemukakan bahwa keterampilan intelektual maksudnya adalah suatu kemampuan yang membuat seseorang menjadi kompeten terhadap suatu subjek sehingga ia dapat mengklasifikasi, mengidentifikasi, mendemonstra-sikan, serta dapat menggeneralisasikan suatu gejala. Strategi kognitif adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengontrol aktifitas intelektualnya dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. Yang dimaksud dengan informasi verbal adalah kemampuan seseorang untuk dapat menggunakan bahasa lisan maupun tulisan dalam mengungkapkan suatu masalah; sikap maksudnya adalah suatu kecenderungan dalam menerima dan menolak suatu objek, misalnya sikap seseorang terhadap olahraga akan menjadi lebih positif atau lebih negatif setelah orang tersebut belajar keterampilan olahraga. Keterampilan motorik adalah kemampuan seseorang untuk mengkoor-dinasikan semua gerakan secara teratur dan lancar dalam keadaan sadar.

C.CONTOH PTK PENJASKES SD KELAS 3 TERBARU

BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah siswa Kelas III SDN ........ tahun pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 14 siswa yang terdiri atas 8 siswa putra dan 6 siswa putri. Mitra peneliti dalam hal ini berperan sebagai observer atau pengamat selama pembelajaran berlangsung, sedangkan peneliti sendiri melaksanakan pembelajaran atau sebagai guru..ptk penjaskes sd kelas 1-6
3.2 Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah pembelajaran sepak takraw dengan menggunakan pendekatan permainan jala hip hop.
3.3 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2016/2017, karena materi sepak takraw terdapat pada semester 2.
3.4 Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN Sulili Jambu Kab. Mamuju Utara.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode pengamatan langsung dan tanya jawab secara lisan. Pengambilan data dilakukan sebanyak tiga kali pada masing-masing siklus yang diterapkan pada penelitian ini yaitu :
1. Tes Praktik : dipergunakan untuk mendapat data dari unjuk kerja siswa pada proses pembelajaran sepak takraw.
2. Lembar Observasi : dipergunakan sebagai teknik untuk mengumpulkan data tentang aktivitas siswa baik dari aspek psikomotor maupun aspek afektif siswa selama kegiatan pembelajaran sepak takraw jala hip hop untuk melihat hasil peningkatan pembelajaran sepak takraw pada siswa Kelas III SDN .....................
3. Evaluasi : Pengumpulan data dengan cara ceramah dan tanya jawab secara langsung agar penulis mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menguasai sepak takraw dalam proses pembelajaran di lapangan.
Prosedur Penelitian
Penelitian ini menggunakan Metode Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Langkah-langkah dalam siklus penelitian tindakan kelas ini terdiri atas empat kompone yaitu : 1) rencana, 2) tindakan, 3) observasi, 3) refleksi.
1. Rencana: Pada tahap ini peneliti membuat rencana pelaksanaan pembelajaran dan mempersiapkan sarana prasarana yang diperlukan..ptk penjaskes sd kelas 1-6
2. Tindakan adalah tahap melaksanakan hal-hal yang telah direncanakan peneliti.
3. Observasi adalah kondisi dimana peneliti mengamati kejadian yang ada saat pelaksanaan tindakan.
4. Refleksi pada dasarnya merupakan suatu bentuk perenungan yang mendalam dan lengkap atas kejadian yang telah terjadi, oleh karena itu tahap ini
merupakan tahap evaluasi untuk menentukan akhir siklus. Untuk lebih jelas lihat pada gambar :

Gambar 3.15
Prosedur Penelitian Tindakan kelas
Secara terperinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dijabarkan sebagai berikut: 1. Rancangan Siklus I
a) Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti menyusun rencana pembelajaran yang terdiri dari :
1. Melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan siswa dalam pembelajaran.
2. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan mengacu pada tindakan yang diterapkan pada PTK yaitu pembelajaran sepak takraw
3. Menyusun instrument tes ketangkasan sepak takraw
4. Menyusun lembar penilaian dan hasil belajar.
5. Mempersiapkan media pembelajaran untuk membantu pengajaran.
6. Mempersiapkan tempat penelitian.
7. Sosialisasi kepada subyek penelitian..ptk penjaskes sd kelas 1-6
b) Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan, kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan proses pembelajaran di lapangan dengan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut :
1. Siswa dibariskan, berdoa, persensi
2. Melakukan pemanasan
3. Guru menjelaskan materi yang akan disampaikan dalam pembelajaran
4. Guru membagi siswa menjadi kelompok dalam proses pembelajaran
5. Melakukan demonstrasi dan penugasan cara menyepak bola takraw:
a) Posisi kaki saat melipat di bawah bola
b) Perkenaan bola diantara kedua paha
c) Sikap lutu agak menekuk ketika melakukan gerak sepak sila
d) Sikap badan agak membungkuk
e) Pergelanagan kaki dibakukan saat melakukan sepak sila
6. Menarik kesimpulan
7. Penilaian selama proses pembelajaran berlangsung
8. Melaksanakan pendinginan
9. Penutup
c) Tahap Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan bersama dengan kegiatan pelaksanaan tindakan. Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap : (1) ketrampilan gerak sepak takraw, (2) kemampuan afeksi siswa dalam bersosialisasi dengan teman.
d) Tahap Refleksi
Dari hasil observasi dan pemantauan tersebut dapat menentukan tindakan kegiatan perbaikan, selain itu guru mengevaluasi bagian mana yang perlu diperbaiki. Refleksi ini dilaksanakan untuk memecahkan kesulitan-kesulitan serta kendala selama proses pembelajaran berlangsung. Kemudian mengadakan evaluasi untuk menentukan tindakan pada siklus berikutnya.
2. Rancangan Siklus II
a. Tahap Persiapan
1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sepak takraw
2) Menyusun instrumen tes ketangkasan Sepak takraw
3) Menyusun lembar penilaian dan hasil belajar
4) Mempersiapkan alat-alat pembelajaran
5) Mempersiapkan lembar observasi
6) Sosialisasi kepada subyek penelitian
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan, kegiatan yang dilkaukan adalah melaksanakan proses pembelajaran di lapangan dengan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut :
1. Siswa dibariskan, berdoa, persensi
2. Melakukan pemanasan
3. Guru menjelaskan materi yang akan disampaikan dalam pembelajaran
4. Guru membagi siswa menjadi kelompok dalam proses pembelajaran
5. Melakukan demonstrasi gerakan sepak sila:
a. Posisi kaki saat melipat di bawah bola
b. Perkenaan bola diantara kedua paha
c. Sikap lutu agak menekuk ketika melakukan gerak sepak sila
d. Sikap badan agak membungkuk
e. Pergelanagan kaki dibakukan saat melakukan sepak sila
6. Masing-masing kelompok melakukan permainan sepak takraw jala hip hop.
7. Penilaian selama proses pembelajaran
8. Melaksanakan pendinginan
9. Penutup
c. Tahap Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan bersama dengan kegiatan pelaksanaan tindakan. Pada tahap ini dilakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran dengan pendekatan bermain terhadap kemampuan bermain sepak takraw serta mendokumensikan kegiatan pembelajaran.
d. Tahap Refleksi
Dari hasil observasi dan permantauan tersebut guru menentukan tindakan kegiatan perbaikan. Selain itu guru mengevaluasi bagian mana yang perlu diperbaiki. Refleksi ini dilaksanakan untuk memecahkan kesulitan-kesulitan serta kendala selama proses pembelajaran berlangsung. Kemudian mengadakan evaluasi.ptk penjaskes sd kelas 1-6
3.6 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas (PTK) tentang peningkatan hasil belajar sepak takraw ini terdiri dari :
1. Silabus
Yaitu seperangkat rancana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolaan kelas, serta penilaian hasil belajar.
2. Rencana Persiapan Pembelajran (RPP)
Yaitu perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RPP berisi Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran dan kegiatan belajar mengajar.
3. Lembar observasi kegiatan belajar mengajar untuk mengamati aktivitas kemampuan siswa selama proses pembelajaran..ptk penjaskes sd kelas 1-6
4. Tes praktek
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Digunakan untuk mengukur kemampuan keterampilan materi yang diajarkan. Tes praktek ini diperiksa setiap akhir putaran.

D.PENELITIAN TINDAKAN KELAS KURTILAS PENJASKES SD LENGKAP

DAFTAR PUSTAKA


Gagne, Robert M. 1985. Essentials of Learning for Instruction. Hinsdale, Iilinois : Dryden Press.
Mulyasa. 2006. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai. 2009. Media Pengajaran. Jakarta: Sinar Baru Algesindo.
Nasutions S. 1996. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Bandung : Penerbit : Jenmars. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
Romizowski, A.J. 1981. Designing Instructionnal System. New York : Kogan Page Michols Publishing.
Singer, Robert N. 1980. Motor Learning And Human Performance. London : The Macmillan Company. Dikutip dari tesis Wismo.
Sulaiman. 2008. Sepak Takraw. Semarang. Unnes Press
T. Raka Joni. 1983. Pendekatan Pembelajaran Acuan Konseptual Pengelolaan Kegiatan Belajar Men gajar Di Sekolah. Jakarta : Depdikbud.
Undang - undang Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 35 tentang Kegiatan Pokok Guru
Winarno Surakhmad. 1980. Metode Pengajaran Nasional, Bandung : Penerbit Jemmars.
Zainal Aqib, dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV. Yrama Widy

Terima kasih telah berkunjung di Musiyanto Blog yang membahas  CONTOH PTK PENJASKES SD TERBARU- ini dapat membantu Anda dalam penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Jika berkenan, mohon bantuannya untuk memberi vote Google + Rekomendasikan ini di Google untuk halaman ini dengan cara mengklik tombol G+ di bawah. Jika akun Google anda sedang login, hanya dengan sekali klik voting sudah selesai. Terima kasih atas bantuannya.